Minggu, 03 April 2011

Kersen (Ceri), Buah Pinggir Jalan yang Menyehatkan

Anak-anak kecil di hampir semua daerah di Indonesia biasanya paling suka bermain di bawah pohon Kersen atau Ceri yang banyak tumbuh di pinggir jalan. Buah kecil yang manis ini ternyata banyak sekali manfaat kesehatanya.

Anak-anak biasanya akan memetik buah Ceri dan langsung memakannya. Karena tidak sempat dicuci seringkali si anak sakit perut sehingga banyak orangtua melarang anaknya makan buah Ceri. Apalagi makan buah Ceri bikin ketagihan karena rasa manisnya yang tinggi.

Tapi jangan salah, meski banyak hidup dipinggir jalan, buah Ceri ini banyak manfaatnya. Asalkan dimakan dengan bersih segala kebaikan senyawa di buah Ceri bisa bermanfaat buat tubuh. Buah Ceri ini bukan Cherry yang sering dijadikan penghias kue tart.

Penelitian membuktikan buah Ceri ini punya banyak senyawa penting yang bermanfaat untuk tubuh.

Dalam setiap 100 gram buah kersen mengandung:

Air (77,8 g)

Protein (0,324 g)

Lemak (1,56 g)

Serat (4,6 g)

Kalsium (124,6 mg)

Fosfor (84,0 mg)

Zat besi (1,18 mg)

Karotin (0,019 mg)

Vitamin B1 (Tiamin) (0,065 mg)

Riboflavin (0,037 mg)

Niacin (0,554 mg)

Vitamin C (Ascorbic Acid atau antioksidan) (80,5 mg)


Kandungan gizi yang tinggi dari buah kersen, membuat buah kecil yang manis ini memiliki banyak manfaat kesehatan, antara lain:

Antiseptik atau antibakteri

Antispasmodik (kejang pada saluran cerna yang mungkin disebabkan diare, gastritis)

Meringankan sakit kepala

Meringankan gejala awal flu dan pilek

Anti diabetes

Anti inflamasi (anti peradangan)


Buah kersen atau talok sering dijumpai dipinggir-pingir jalan dan digunakan sebagai tumbuhan peneduh. Secara ilmiah, buah kersen disebut dengan Muntingia calabura L., yang termasuk dalam keluarga tanaman Elaeocarpaceae.

Selain di Indonesia, kersen juga banyak dibudidayakan di daerah hangat di seluruh dunia, seperti India, Asia Tenggara, Malaya, Indonesia, Filipina dan di banyak tempat lain.

Di berbagai negara buah kersen memiliki sebutan lokal masing-masing, seperti capolin, palman, puan (Meksiko), capulin blanco (Guatemala dan Costa Rica), capulin de comer (El Salvador), takop farang atau ta kob farang (Thailand), kakhop (Kamboja), cay trung ca (Vietnam), buah cheri, kerukup siam (Malaya), Jamaican cherry, Panama berry, Singapore cherry (Inggris), Chinese cherry atau Japanese cherry (India).

Tes Kesehatan yang Ditakuti Wanita

Sebagian besar perempuan akan menunda atau melupakan pemeriksaan kesehatan hanya karena merasa takut. Berikut ini 4 pemeriksaan kesehatan yang paling banyak ditakuti oleh kaum perempuan.

Umumnya rasa takut yang muncul karena pemeriksaan ini menimbulkan rasa sakit, ketidaknyamanan, memiliki efek samping atau takut akan hasil yang didapatkannya.

Ini dia 4 pemeriksaan kesehatan yang ditakuti oleh perempuan:

#Mammografi#
Pemeriksaan ini menggunakan sinar X-ray dan mampu mendeteksi 80-90 persen dari kasus kanker payudara. Sebuah studi di Swedia menemukan bahwa mammografi secara teratur bisa mengurangi angka kematian perempuan di atas 40 tahun sebesar 29 persen. Umumnya rasa sakit akibat mammografi akan muncul terutama pada orang yang memiliki payudara kecil, padat atau sensitif. Waktu yang diperlukan untuk mammografi secara total hanya 40 detik.

Mammografi merupakan pemeriksan standar bagi perempuan yang memiliki faktor risiko terhadap kanker payudara. Tes alternatif lainnya bisa menggunakan USG, SADARI (Periksa payudara sendiri) atau dengan gelombang suara untuk mendeteksi kelainan. Namun terkadang digunakan bersama-sama dengan mammografi, terutama jika ditemukan ada kelainan.

#Colonoscopy#
Prosedur ini merupakan cara yang paling efektif untuk mencaritahu polip dan pertumbuhan prekanker lainnya di dalam usus, tes ini berlangsung sekitar 30 menit sampai 1 jam. Umumnya ketakutan yang timbul karena seseorang membayangkan sebuah tabung panjang yang fleksibel dan kamera kecil akan masuk ke dalam usus, serta terkadang timbul sakit perut, mual dan muntah setelahnya.

Jika seseorang takut melakukan colonoccopy, mungkin ia bisa melakukan pemeriksaan sejumlah kecil feses yang dikirim ke laboratorium untuk dianalisis. Tes ini akan melihat perubahan DNA yang berkaitan dengan polip prekanker dan kanker. Jika tes DNA menunjukkan perubahan, seseorang akan disarankan untuk melakukan colocoscopy.

#Endoskopi#
Pemeriksaan ini untuk melihat kondisi kerongkongan, perut dan usus kecil. Endoskopi digunakan untuk menyelidiki penyebab gejala spesifik seperti refluks kronis, kesulitan menelan dan nyeri perut bagian atas. Prosedur ini akan memakan waktu sekitar 5-7 menit, tapi jika ditemukan polip maka diperlukan waktu yang lebih lama.

Ketakutan yang timbul karena banyak orang khawatir mengalami mual dan muntah akibat harus berpuasa terlebih dahulu selama 6-8 jam sebelum tes. Selain itu seseorang mungkin akan memiliki sedikit sakit tenggorokan setelahnya. Karena itu sebaiknya tes ini dilakukan pagi hari dan mengonsumsi makanan yang lunak setelahnya serta menghindari makanan pedas dan keras.

#Pemeriksaan MRI#
MRI (magnetic resonance imaging) menggunakan medan magnet yang kuat dan gelombang radio untuk membuat gambar penampang tubuh dengan menunjukkan organ, jaringan lunak, tulang, ligamen sobek hingga ke tumor atau kanker. Seseorang akan dibaringkan dan masuk ke dalam sebuah tabung tertutup dengan posisi kepala terlebih dahulu. Prosedur ini memakan waktu sekitar 10 menit hingga 1 jam.

Pemeriksaan MRI tidak akan menimbulkan rasa sakit secara fisik, tapi berbaring sendiri di dalam tabung tertutup yang sempit bisa membuat seseorang stres dan merasa sesak napas. Sebaiknya menutup mata dan membayangkan sesuatu yang indah atau menyenangkan sehingga bisa membuatnya lebih santai. Tapi jika terjadi gangguan mental mintalah dokter untuk meresepkan obat anti kecemasan sebelum melakukan MRI.

Beberapa rumah sakit ada yang memiliki MRI terbuka yang membuat seseorang bisa berdiri, duduk atau bahkan menonton televisi saat discan. Tapi MRI terbuka ini umumnya menggunakan medan magnet yang rendah sehingga kualitas gambarnya tidak sebagus MRI tertutup. MRI terbuka mungkin cukup untuk melihat scan dari lutut atau otak akibat sakit kepala kronis, tapi untuk tes lain seperti deteksi tumor atau kanker tidak dianjurkan.

Spidol Lebih Berbahaya Ketimbang Kapur Tulis

Zaman sekarang sekolah-sekolah tampaknya lebih memilih untuk menggunakan spidol dan papan tulis putih (whiteboard) ketimbang kapur tulis yang berdebu. Tapi tahukah Anda bahwa kapur tulis lebih aman ketimbang spidol?

Kapur tulis sudah sangat jarang digunakan di sekolah-sekolah yang ada di perkotaan, meski masih banyak digunakan di sekolah yang ada di pedesaan karena harganya yang lebih murah. Kapur tulis sering dianggap kotor dan berdebu, juga dianggap dapat membahayakan kesehatan.

Namun pada dasarnya bahan dasar kapur tulis tidaklah beracun. Kapur tulis standar yang digunakan di kelas pada umumnya terbuat dari kalsium karbonat, yaitu bentuk olahan dari batu kapur alam.

Memang untuk beberapa orang yang menderita asma atau masalah pernapasan seperti batuk, debu dari kapur tulis bisa menjadi alergen atau pemicu kambuhnya penyakit, yang ditandai dengan gejala batuk, mengi, sesak dada dan sesak napas.

Hal ini karena partikel kapur tulis yang tergolong besar (sehingga masih terlihat beterbangan di ruangan) tersaring oleh filter pertama pada sistem pernapasan manusia, yaitu bulu hidung.

Partikel kapur tulis tersebut tidak masuk ke dalam paru-paru namun tertahan oleh bulu hidung, sehingga untuk beberapa orang debu kapur tulis bisa menyebabkan reaksi bersin dan batuk.

Sedangkan spidol yang dianggap bersih, tak berdebu dan aman ternyata mengandung bahan kimia yang disebut xylene, yaitu bahan kimia yang menimbulkan aroma khas pada spidol dan juga banyak digunakan pada cat, thinner dan pernis.

Xylene adalah bahan kimia beracun yang ditemukan pada banyak barang-barang rumah tangga. Bahan kimia ini merupakan salah satu dari 30 bahan kimia yang diproduksi di Amerika Serikat.

Partikelnya yang kecil paling mungkin memasuki tubuh ketika dihirup. Menghirup racun dalam spidol dapat memiliki efek jangka pendek dan jangka panjang. Bahan kimia ini dapat menimbulkan gejala inhalasi mirip ketika orang menggunakan obat penenang atau alkohol, yang efeknya bisa bertahan hingga 15 sampai 45 menit.

Dari hasil studi yang dikutip dari Toxicological Profile for Xylene, Agency for Toxic Substances and Disease Registry, efek jangka pendek dari xylene bisa mengganggu pernapasan, pusing, sakit kepala dan kehilangan memori jangka pendek.

Sedangkan efek jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan otak permanen dan kerusakan hati, ginjal dan sistem saraf pusat.

Beberapa merek spidol juga mengandung propyl alcohol yang tidak terlalu beracun tetapi dapat mengiritasi mata, hidung dan tenggorokan.

Untuk mengatasi bahaya tersebut, sebaiknya jangan gunakan spidol dengan jarak dekat atau dalam jangka waktu yang lama. Juga jangan dengan sengaja menghirup spidol dan batasi penggunaannya.

Ventilasi ruangan yang baik, segera mencuci tangan dan sering-sering bernapas dalam udara yang segar dapat mengurangi dampak dan bahaya dari debu kapur tulis dan juga partikel spidol.

Tanpa Diberi Antiseptik, Luka Bisa Disembuhkan dengan Air dan Sabun

Bila anak terjatuh saat bermain sepeda, biasanya orangtua langsung mencari antiseptik atau mengoleskan krim antibiotik pada luka. Tapi penelitian terbaru menemukan bahwa air dan sabun adalah obat terbaik untuk menyembuhkan luka gores atau luka ringan.

Caranya pertama kali luka dibersihkan dengan air mengalir, kemudian dicuci dengan sabun, lalu dibilas lagi dengan air dan selanjutnya dikeringkan dengan handuk bersih yang menyerap air.

Penelitian yang dilakukan pada anak yang dirawat karena infeksi kulit di Johns Hopkins Children's Center di Baltimore, Maryland, menemukan bahwa air dan sabun lebih efektif menyembuhkan luka gores ketimbang krim antibiotik.

Para ilmuwan mengklaim bahwa membersihkan luka anak dengan hati-hati di bawah air keran yang mengalir lebih cepat membantu proses penyembuhan.

Penelitian ini awalnya dilakukan untuk tujuan membandingkan dua antibiotik biasa yang digunakan untuk mengobati infeksi kulit, untuk mengetahui mana yang lebih efektif.

Namun setelah membersihkan luka dari 191 pasien di rumah sakit anak, peneliti justru menemukan cara pilihan obat baru yang lebih efektif, yaitu air dan sabun.

Dalam waktu seminggu, 95 persen dari partisipan telah pulih sepenuhnya, terlepas dari antibiotik yang diterima.

Para peneliti menyimpulkan bahwa rahasia sukses penyembuhan luka adalah pembersihan dan perawatan yang tepat, bukan antibiotik.

Kabar baiknya adalah kami tidak memberikan antibiotik, tapi hampir semua infeksi kulit sembuh sepenuhnya dalam waktu seminggu. Kabar baik lagi ternyata penyembuhan luka berteknologi rendah, seperti pembersihan, pengeringan dan menjaga area yang terinfeksi tetap bersih, membuat penyembuhan lebih cepat.

Dr Chen menambahkan bahwa menjaga luka selalu bersih menjadi dasar pengobatan infeksi kulit, tetapi lebih banyak dokter sudah mulai meresepkan antibiotik dalam beberapa tahun terakhir, meskipun biaya dan risiko efek samping berkembang seperti resistensi obat.

Banyak dokter berasumsi bahwa antibiotik selalu diperlukan untuk infeksi bakteri, tetapi ada bukti yang menunjukkan hal ini tidak mungkin terjadi.

Dalam penelitian ini diteliti 191 anak berusia 6 bulan sampai 18 tahun yang dirawat karena infeksi kulit di Johns Hopkins Children's Center di Baltimore, Maryland, antara tahun 2006 dan 2009.

Dari jumlah tersebut, 133 anak terinfeksi bakteri MRSA, yaitu strain virulen yang tidak merespon terhadap kebanyakan antibiotik. Sisanya mengalami infeksi kulit yang sederhana dengan strain non-resisten terhadap bakteri.

Ketakutan yang Teramat Sangat Bisa Memicu Keringat Darah

Keringat normalnya berupa cairan yang tidak berwarna. Tapi beberapa orang bisa mengalami keringat darah. Ketakutan yang amat sangat atau stres yang maha besar diduga menjadi pemicu manusia mengeluarkan keringat darah.

Kasus orang yang mengalami keringat darah terbilang langka. Kondisi ini disebut dengan hematidrosis (sweat blood) yang pada beberapa kondisi tertentu bisa disebabkan oleh penyakit lain atau mengalami tekanan darah tinggi.

Dr Frederick Zugibe, ahli forensik dari New York menuturkan hematidrosis adalah salah satu efek samping yang ekstrem dari respons fight or flight. Sebagian besar terjadi ketika seseorang mengalami stres kecemasan atau ketakutan yang teramat dalam.

Kecemasan dan ketakutan yang begitu kuat bisa menyebabkan pembuluh darah kecil yang menyuplai ke kelenjar keringat menjadi ketat dan mengecil, sehingga ketika pembuluh darah melebar akan terjadi pendarahan.

Pada saat sedang stres umumnya keringat yang keluar akan lebih banyak, dan ketika pembuluh darah sudah melebar kembali maka keringat yang keluar di permukaan kulit akan bercampur dengan darah yang membuat orang menyebutnya keringat darah.
 
Berkeringat darah memang bisa menakutkan dan sangat langka. Tapi biasanya kondisi ini berkaitan dengan penyakit lain seperti hemochromatosis, yaitu kondisi bahaya
yang mana zat besi banyak terbentuk dan disimpan dalam tubuh sehingga membuat seseorang rentan terhadap hematidrosis.

Selain itu ada pula teori lain yang menyebutkan bahwa kecemasan atau ketakutan ekstrem yang dialami seseorang menyebabkan pelepasan suatu bahan kimia yang bisa
memecah kapiler di dalam kelenjar keringat. Akibatnya ada sejumlah kecil pendarahan sehingga keringat yang keluar disertai dengan darah.

Dr Zugibe menuturkan beberapa kasus terkait dengan hematidrosis dilaporkan terjadi ketika seseorang mengalami ketakutan menjelang hukuman eksekusi serta ada juga
akibat takut badai saat tengah berlayar.

Efek yang terjadi di tubuh terkait dengan hematidrosis ini meliputi kelemahan, dehidrasi ringan hingga sedang serta kecemasan tinggi yang membuat seseorang berkeringat hingga keringat darah.

Plus Minus Kesehatan Buat si Hobi Makanan Pedas

Lidah orang Indonesia kebanyakan suka makanan pedas. Tak heran jika kebiasaan makan makanan pedas sulit untuk dihilangkan. Makanan pedas bisa memberikan manfaat kesehatan tapi juga ada dampaknya.

Selain menambah citarasa makanan dan nafsu makan seseorang, cabai atau kari yang pedas dapat membuat tubuh sehat. Rasa pedas dan sensasi terbakar yang dihasilkan cabai disebabkan oleh konsentrasi tinggi dari bahan aktif yang disebut capsaicin.

Bagaimana ciri tubuh sudah tidak kuat makanan pedas?

Yang harus dilakukan kenali sinyal yang diberikan oleh tubuh. Jika sudah tidak bisa mentoleransi makanan pedas tandanya adalah rasa panas di perut.

Umumnya orang yang memiliki gangguan pada pencernaan seperti hernia hiatus, gangguan usus dan lambung disarankan untuk menghindari atau mengurangi makanan pedas agar tidak memperburuk kondisinya.

Berikut manfaat dan dampak negatif bagi kesehatan akibat mengonsumsi makanan pedas.

*Dampak positif makanan pedas*

Senyawa turmeric (yang ada di makanan kari) dalam makanan pedas memiliki kemampuan untuk mengurangi peradangan sendi dan kerusakan tulang pada manusia, sehingga bisa bermanfaat untuk orang dengan arthritis (peradangan sendi).

Beberapa penelitian menunjukkan konsumsi cabai dan kari secara teratur bisa mengurangi risiko kanker. Senyawa capsaicin dalam cabai bisa membunuh sel kanker dengan menyerang mitokondria tanpa merusak sel-sel yang sehat serta meringankan rasa sakit di mulut bagi penderita kanker, sedangkan kurkumin dalam bumbu kari memiliki efek anti kanker.

Makanan pedas dapat membantu meningkatkan kesehatan jantung serta meningkatkan kemampuan tubuh untuk melarutkan bekuan darah.

Mengonsumsi makanan rempah seperti cabai bisa membuat seseorang berkeringat sehingga mengurangi derita saat pilek dan flu.

Sebuah studi menetapkan makanan pedas bisa mempercepat metabolisme dan membantu tubuh membakar kalori lebih cepat.

Konsumsi cabai bisa meningkatkan sirkulasi peredaran darah dan menurunkan tekanan darah, serta tingginya kadar vitamin A dan C bisa membantu memperkuat dinding pembuluh darah yang membuatnya menjadi elastis dan lebih mampu menyesuaikan diri dengan perbedaan tekanan darah.

Mengurangi rasa nyeri dan ketidaknyamanan, senyawa capsaicin diketahui bisa mengurangi kadar dari zat P, yaitu suatu neurotransmitter dari sinyal rasa sakit.

*Dampak negatif makanan pedas*

Mengonsumsi makanan pedas bisa menimbulkan iritasi dengan membentuk pola aneh (mengubah geografis) dari lidah.

Terlalu sering mengonsumsi makanan yang pedas bisa mengurangi lapisan yang berfungsi melindungi lambung. Jika terlalu sering maka lapisan ini akan semakin menipis yang membuat lambung rentan terkena infeksi.

Pada beberapa orang, makanan pedas bisa mengganggu produksi asam lambung sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman di perut.

Makanan pedas bisa memberikan pengaruh buruk terhadap kualitas tidur atau menyebabkan insomnia. Hal ini karena makanan pedas meningkatkan suhu tubuh dan siklus pertama dari tahapan tidur sangat sensitif terhadap makanan yang pedas. Untuk itu sebaiknya hindari mengonsumsi makanan pedas di malam hari.

Terus menerus mengonsumsi makanan pedas bisa mengurangi sensasi rasa di lidah sehingga seseorang menjadi kurang bisa mengenali rasa dari makanan atau minuman yang dikonsumsinya.

Yang Ditakutkan Pria Ketika Meninggal

Setiap orang di dunia ini pasti akan meninggal. Tapi bagi kaum laki-laki ada beberapa hal yang ditakutkan atau dikhawatirkan ketika ia meninggal kelak. Apa yang ditakutkan laki-laki jika meninggal?

Kematian adalah suatu proses akhir kehidupan yang dialami semua makhluk hidup hanya saja waktunya berbeda-beda. Tidak mudah memang memprediksikan secara tepat kapan seseorang akan meninggal. Kematian itu sendiri bisa disebabkan oleh suatu penyakit, kecelakaan atau sebab lainnya.

Orang yang masih muda atau masih dalam usia produktif umumnya lebih takut meninggal dibanding lansia. Hal ini berdasarkan hasil studi yang dilaporkan dalam Journal of Pain and Symptom Management.

Salah satu hal yang ditakutkan laki-laki mengenai kematian adalah karena ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah meninggal. Sama seperti ketakutan yang timbul pada anak-anak saat harus memasuki ruang atau tempat yang gelap. Hal ini karena pada umumnya ketakutan timbul akibat ketidaktahuan.

Sementara itu bagi kaum laki-laki terutama yang sudah menikah dan menjadi kepala keluarga maka banyak hal yang akan ditakutinya ketika meninggal kelak. Hal ini karena ada tanggung jawab yang harus dimilikinya terhadap keluarga.

Kekhawatiran ini umumnya mengenai kelangsungan hidup dari keluarga yang ditinggalkannya seperti istri dan anak-anaknya, terlebih laki-laki identik sebagai orang yang bertanggung jawab secara finansial atau materi.

Kondisi ini akan membuat laki-laki merasa khawatir apakah ia sudah meninggalkan bekal yang cukup untuk kehidupan keluarganya kelak setelah ia meninggal atau belum. Sehingga ia akan bekerja keras agar bisa meninggalkan warisan yang abadi sehingga keluarga yang dicintainya bisa tetap hidup dengan normal.

Namun sebaiknya ketakutan atau kekhawatiran yang dialami tidak mengganggu aktivitas dan kehidupannya sehari-hari. Jika ketakutan yang muncul sudah mengganggu ada kemungkinan seseorang memiliki fobia yang disebut dengan thanatophobia atau necrophobia.

Kematian biasanya ditandai jika jantung sudah tidak bekerja karena secara otomatis aliran darah dan oksigen ke seluruh tubuh serta otak juga akan terhenti. Akibat tidak adanya asupan oksigen dan darah ke otak, maka dalam hitungan beberapa detik otak juga akan mati dan disitulah akhir dari perjalanan hidup seorang manusia.